Total Tayangan Laman

Kamis, 30 Desember 2010

Asketis, kesederhanaan yg berkualitas

Ketidakberdayaan menyejahterakan masyarakat akibat sisitem yang menstimulir kerakusan,kejahiliyahan tata nilai&keburukan tata kelola, kelambanan waktu&perilaku koruptif,keengganan berbagi baik aspek keilmuan sebagai sumber pencerahan umum maupun berbagi kapasitas(metodologis, sistemik&prosedural pencapaian kecerdasan umum)/mencerdaskan bangsa hanyalah jargon kosong, ditambah tumpang tindihnya lingkup kerja&kekaryaan dan daya dobrak untuk mengambil inisiatif perubahan yang hanya bersifat insidental&elementer jauh dari figur birokrasi yang berjiwa melayani secara holistik.Paremeternya berupa pertanggungjawaban yang transparanan&partisipatif,terobosan kreatifitas dan kecerdasan kolektif dengan kepemimpinan yang visioner. Keadaan "jauh panggang dari api ini" sumber utamanya adalah tidak dikenalnya lagi secara konsep teoritis dan sistem aplikasi praksis kehidupan yang menghidupkan niat dan cara asketistik dalam segala sendi bernegara. Sikap dan tindakan Asketis bisa diterapkan apabila pemerataan pendidikan baik akses maupun kualitas seperti profesionalitas pendidik, infrastruktur dan keberlanjuatan pembelajaran,, transformasi pembentukan karakter, kemantapan&kemajuan akademis, kemitaan sinergis semua pemangku kepentingan, kesederhanaan hidup yang memberi inspirasi dan kedamaian hati&pikiran agar sistem pendidikan memiliki standarisasi yang humanis dengan contoh teladan dan mudah/terus berkembang kapasitasnya. Intinya asketis memberi ruang kebersamaan bahwa bernegara(pendidikan dalam arti luas) bukan hanya milik segelintir elit yg katanya merepresentasikan rakyat dengan demokrasi perwakilannya, sehingga kehilangan jiwa aketisnya(transaksional&politik pencitraan diri dengan hedonis menghaburkan uang negara/rakyat banyak), menyebabkan hidup berkesederhanaan namun berkualitas secara lahiriyah&bathiniyah sebagai semangat "keluar dari belenggu kejahiliyahan/kebodohan yang gelap"perlu menjadi gerakan. Seberapa besar daya dukung alam&manusia dapat dipertahankan secara berkelanjuatan dalam pembangunan, apabila zona nyaman materialisme dan pengurasan sumber daya dilakukan tanpa mengembalikannya kepada fitrah kemanusiaan dimana kita semua "telanjang"/asketis tanpa atribut ke dunia ini. Karena kita kelak akan kembali kepadaNya dengan jiwa yang beramal(entah amal kebaikan/amal keburukan). Dan seluruh amal kebaikan bersumber dari niat&cara yang asketis(menyederhanakan diri diharibaan) untuk beribadah kepadaNYA. Mari kita mulai gerakan untuk hidup asketis agar semua milikNYA(alam&sesama) dapat kita jaga/lestarikan dan dapat membangun dalam arti hakiki (dunia&akhirat)secara berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar